//
you're reading...
All about Islam

ASTRONOMI & ASTROLOGI DALAM TINJAUAN ISLAM

Oleh: Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar, SHI.

Prolog

Langit dengan segala yang berada disekitarnya adalah fenomena menarik dikalangan bangsa-bangsa kuno Babilonia, Mesir, Cina, India, Persia, Yunani, dll. Peradaban Babilonia adalah peradaban yang punya pengaruh besar dalam ilmu pengetahuan. Orang-orang Babilonia dikenal hobi dengan ilmu eksperimental, membuat peradaban ini bertahan dan terus berkembang. Sumbangsih besar, sekaligus masalah besar peradaban Babilonia yang telah mengakar hingga saat ini adalah Astrologi. Astrologi lahir sekitar 2000 tahun SM di Lembah Mesopotamia (di antara sungai Eufrat dan Tigris). Dapat dibayangkan, langit yang gemerlap oleh ribuan bintang-bintang tentunya sangat inspiratif untuk para Astrolog dan pendeta Babilonia ketika itu. Mengamati sekaligus meramal kejadian dilangit adalah kebiasaan mereka dahulu, mereka beranggapan bahwa setiap gerak benda-benda dilangit adalah pesan dari penguasa alam yang harus diterjemahkan. Astrologi banyak diminati dahulu bahkan hingga kini dikarenakan ia bicara tentang manusia dengan segala karakter dan nasibnya. Datangnya Islam, secara tegas melarang praktek ini.

Astronomi dengan Astrologi sangatlah berbeda, meski kedua-duanya sama, sama dalam menerjemahkan alam raya (langit), keduanya memang tidak lepas dari pemaknaaan dan penerjemahan benda-benda langit. Astrologi mempelajari hubungan kedudukan rasi-rasi bintang (zodiak) terhadap karakter dan nasib seseorang. Sementara Astronomi menerjemahkan langit demi pengembangan peradaban, dan khusus dalam Islam berguna dalam kepentingan ibadah seperti shalat, puasa, zakat, dll. Astronomi mempelajari alam secara fisika-matematika dan hukum-hukum alamnya. Sehingga kesimpulannya bahwa benda-benda di atas sana adalah benda langit, bukan dewa-dewi atau makhluk luar biasa.

Sejak dulu, orang meyakini bahwa Bumi adalah sebagai pusat Tata Surya (Geosentris), antara lain dipelopori oleh Claudius Ptolemeus dari Yunani dalam Almagest-nya. Namun, sekitar tiga belas abad kemudian, sistem Geosentris ini runtuh oleh teori Heliosentris Nicholas Copernicus (w.1543 M) di tahun 1512. Ia menuturkan, planet dan bintang bergerak mengelilingi Matahari dengan orbit lingkaran (da’iry). Johanes Kepler (w.1630 M) mendukung gagasan itu di tahun 1609 melalui teorinya bahwa Matahari adalah pusat Tata Surya, Kepler juga memperbaiki orbit planet menjadi bentuk elips (ihlijy) yang dikenal dengan tiga hukum Kepler-nya. Di tahun yang sama, Galileo Galilei (w.1642 M) menciptakan Teleskop monumental di dunia. Dari pengamatannya, ia berkesimpulan bahwa Bumi bukan pusat gerak. Penemuan Teleskopnya, selain memperkuat konsep Heliosentris, juga membuka lembaran baru dalam perkembangan ilmu Astronomi modern.

Ilmu Falak (Astronomi)Masa Islam

Dalam Islam, pada awalnya Ilmu Falak tidak lebih hanya sebagai kajian ‘nujumisme’ (Astrologi). Hal ini terjadi antara lain dengan dua alasan: 1.) Kebisaan hidup mereka dipadang pasir yang luas serta kecintaan mereka pada bintang-bintang untuk mengetahui tempat terbit dan terbenamnya, mengetahui pergantian musim, dll. 2.) Keterpengaruhan mereka terhadap kebiasaan bangsa-bangsa sebelumnya yang punya kebiasaan Astrologi.

Datangnya Rasulullah S.a.w. beserta risalah-Nya dengan membawa cahaya al-Qur’an, menebas habis paham nujum tersebut. Bahagia dan celaka (nasib) mutlak dalam kekuasaan Allah S.w.t. Ilmu falak terus berkembang dengan kontrol al Qur’an, hingga akhirnya banyak melahirkan sarjana-sarjana falak berpengaruh dalam Islam seperti al Biruni, al Battani, Ibnu Yunus, Ibnu Syathir, Ibnul Majdi, dll.

Adalah Dinasti Abbasiyyah masa Al Mansur berjasa meletakkan Ilmu Falak pada posisi istimewa, setelah Ilmu Tauhid, Fikih, dan Kedokteran. Ketika itu, Ilmu Falak -dikenal juga dengan Astronomi- tidak hanya dipelajari dan dilihat dalam perspektif keperluan praktis ibadah saja, namun lebih dari itu, ilmu ini lebih dikembangkan sebagai pondasi dasar terhadap perkembangan science lain seperti ilmu pelayaran, pertanian, kemiliteran, pemetaan, dll. Tidak tanggung-tanggung, Khalifah Al Manshur membelanjakan dana negara yang besar dalam rangka mengembangkan kajian Ilmu Falak.

Sejak masa Al Makmun, telah marak gerakan penerjemahan literatur-literatur Falak asing kedalam bahasa Arab seperti buku “Miftah an Nujum” yang dinisbahkan pada Hermes Agung (Hermes al Hakim) dimasa Umawiyah, menyusul buku Sind Hind tahun 154 H/ 771 M yang diterjemahkan oleh Ibrahim al Fazzary, Almagest Ptolomaeus yang diterjemahkan oleh Yahya bin Khalid al Barmaky dan disempurnakan oleh al Hajjaj bin Mutharr dan Tsabit bin Qurrah (w.288 H), dll.

Hal penting yang perlu dicatat, perkembangan peradaban falak Arab-Islam memang tidak bisa dilepaskan dari peradaban sebelumnya, namun terdapat beberapa keistimewaan dalam ilmu falak Islam, antara lain sbb.:

1.] Meski Arab menukil dari peradaban sebelumnya, namun senantiasa disertai dengan koreksi, penjelasan ulang teori, penambahan informasi, yang berikutnya membuat karya-karya tersendiri yang punya ciri dan keunggulan.

2.] Peradaban falak Arab-Islam tidak hanya terhenti dalam sebatas tinjauan teoritis saja, namun mempolanya dalam bentuk ilmu-ilmu pasti seperti matematika, fisika, kimia, dll.

3.] Dalam hal perbintangan (Astrologi), Arab-Islam memang tidak mampu menghapus habis tradisi ini, bahkan praktek ini tetap ada dalam kehidupan masyarakat sehari-hari hingga saat ini. Hal ini dikarenakan Astrologi bicara tentang diri seseorang dengan segala kemungkinan suka dan dukanya.

Rekonstruksi Fakta Teori Tata Surya

Hukum atau teori Copernicus, Kepler, Galileo dan Newton tentang Tata Surya memang telah diakui dunia sebagai yang terbenar dalam abad ini. Terhadap hal ini, khususnya tiga hukum Kepler, Prof.Dr.Muhammad Shalih an-Nawawy (Guru Besar Falak Universitas Kairo) menyatakan dalam makalahnya berjudul “Ibn Syathir wa Nashiruddin at Thusy wa Dawa’ir al Aflak” yang dipresentasikan pada seminar internasional sejarah ilmu pengetahuan tahun 2004 lalu di Perpustakaan Alexandria-Mesir, ia mengungkap, bahwa teori tersebut pada dasarnya telah dikemukakan atau setidak-tidaknya disinggung oleh Ibnu Syathir (w.777 H/1375 M) diabad 8 H/14 M dalam kaeryanya: “Kitab Ta’liq al Arshad” dan “Nihayat al Ghayat fi [l] a’mal al Falakiyyat” dan “Nihayah as Sul fi Tashih al Ushul”. Matahari sebagai pusat Tata Surya (Heliosentris) juga dipertegas oleh QS. An Naml ayat 88, (“Dan kamu lihat gunung-gunung itu kamu sangka dia tetap ditempatnya, padahal ia berjalan seperti jalannya awan, …”) (QS.An Naml/88)

Zodiak

Zodiak adalah sekumpulan bintang yang melintasi Bumi dalam peredarannya mengelilingi Matahari, meski seolah-olah terlihat Matahari-lah yang melintasi Bumi (harakah zhahiriyyah). Zodiak (Da’iratul Buruj) terdiri dari 12 rasi, yaitu: Leo (الأسد), Taurus (الثور), Copricorn (الجدي), Gemini (الجوزاء), Aries (الحمل), Pisces (الحوت), Aquarius (الدلو), Cancer (السرطان), Virgo (العذراء), Scorpio (العقرب), Sagitarius (القوس), Libra (الميزان).

Zodiak-zodiak ini terbagi dalam empat musim: [1.] Musim semi (rabi’), 21 Maret s.d. 22 Juni (Aries, Taurus, Gemini). [2.] Musim panas (shayf), 22 Juni s.d. 23 September (Cancer, Leo, Virgo). [3.] Musim gugur (kharif), 23 September s.d. 22 Desember (Libra, Scorpio, Sagitarius). [4.] Musim dingin (syita’), 22 Desember s.d. 21 Maret (Copricorn, Aquarius, Pisces).

Mengaitkan zodiak-zodiak tersebut dengan karakter/nasib seseorang adalah terlarang dalam Islam. Al Qur’an mengecam praktek Astrologi ini, antara lain firman Allah Swt. Dalam QS.Al A’raf/188: (“Katakanlah, Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku, dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan Aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita bagi orang-orang yang beriman”).

Juga firman Allah Swt. dalam QS.Al Jinn/26: (“Dialah yang maha mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu”).

Juga Hadits Nabi Saw.: { مَنْ أَتَى عرافا أَوْ كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أَنْزَلَ عَلَى مُحَمَّدٍ } [الحديث}

Ilmu Falak (Astronomi) & Peranannya Dalam Islam

Ilmu Falak (Astronomi) adalah Ilmu yang mempelajari tentang tata lintas pergerakan benda-benda angkasa khususnya Bulan, Bumi dan Matahari secara sistematis dan ilmiah, demi kepentingan manusia. ‘Falak’ pluralnya ‘aflak’ berarti ‘orbit’ atau ‘edar’nya benda-benda angkasa. Adapaun pembahasan Ilmu Falak dalam Islam adalah sbb.:

1.] Menentukan Waktu-Waktu Shalat

Firman Allah S.w.t dalam QS. An Nisa’/103, Al Isra’/78 dan HR. Muslim dari Abdullah bin Umar menyatakan bahwa waktu shalat punya limit dan ketentuan (awal dan akhir) yang berarti shalat tidak bisa dilakukan dalam sembarang waktu, tetapi harus mengikuti atau berdasarkan dalil-dalil baik dari Al Qur’an maupun Hadis terkait. Persoalannya adalah, baik Al Qur’an maupun Hadits tidak memberi limit pasti awal dan akhir waktu-waktu shalat tersebut, yang ada hanyalah “kitaban mauquta” (waktu yang sudah ditentukan) tanpa ada penjelasan rinci dan mate-matis terhadap kalimat tersebut. Hal ini membawa konsekuensi pada beragamnya penafsiran terhadap penetapan awal dan akhir waktu-waktu tersebut, dan ilmu falak berperan besar dalam persoalan ini.

2.] Menentukan Arah Kiblat

Menghadap kiblat adalah satu keharusan (syarat) untuk sah dan berkualitasnya shalat yang dilakukan. Ulama berbeda pendapat tentang kriteria dan urutan penentuan arah kiblat yang berada jauh (tidak terlihat) dari Ka’bah. Apakah harus menghadap ‘ain (bangunan) ka’bah atau cukup dengan jihah (area) atau serta merta menghadap saja. Secara lebih tegas kalangan Syafi’iyah menyatakan berpalingnya arah kiblat meski sedikit saja (al inhiraf al yasir) membawa konsekusensi pada batalnya shalat. Wallahu a’lam

3.] Menentukan Awal Bulan Qamariyah

Penetapan awal Ramadhan dan Syawal adalah persoalan ijtihad sehingga sangat memungkinkan terjadinya perbedaan pandangan dan pendapat. Dalam konteks Indonesia persoalan ini sudah sering terjadi bahkan kita rasakan berkali-kali. Jauh hari, Nabi kita Muhammmad S.a.w. telah mengingatkan sekaligus menganjurkan untuk memulai dan mengakhiri puasa & hari raya dengan rukyat hilal, yaitu melihat hilal secara langsung diakhir Sya’ban dan Ramadhan. Hal ini berdasarkan hadits beliau S.a.w. ; “Puasalah kamu karena melihat hilal, dan berbukalah (berhari raya-lah) karena melihat hilal, jika hilal tertutup awan maka hitunglah (kadarkan-lah)”. HR.Bukhari-Muslim.

Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, hadits Nabi S.a.w. tersebut mulai diperbincangkan bahkan ‘dikritik’. Diklaim, dalam aktifitas rukyat banyak kelemahan yang tidak bisa ditolerir oleh akal manusia seiring dengan majunya pengetahuan. Terdapat dua kubu berlawanan dalam hal ini, kubu rukyat dan kubu hisab, yang kerap berselisih dan terkadang hampir saja merobohkan persatuan dan kesatuan umat.

4.] Menentukan terjadinya Gerhana

Gerhana adalah fenomena alamiah yang jarang terjadi. Dalam fikih Islam dikenal/dianjurkan untuk melakukan shalat sunat Gerhana ketika terjadinya fenomena ini. Namun tidak banyak orang yang perhatian dan mengerti akan fenomena ini, sehingga ilmu falak berperan dalam menentukan kapan dan dimana terjadinya Gerhana ini, baik Gerhana Matahari maupun Gerhana Bulan. Sehingga seorang muslim bisa melakukan shalat sunat yang mu’akkad ini. Wallahu a’lam

***

About baskara90

Terima kasih kepada siapa saja yang telah membuka blog ini. Saya adalah Hafiizh Baskara. Seorang pria yang terlahir di Jombang pada tanggal 17 Juli 1990. Dari pasangan Suami-Istri yaitu Drs. Adi Rahardjo dan Dra. Surjani Hasana, dan kini beliau berdua memiliki tiga putra. Hafiizh Baskara, Zahdiar Radin, dan Yunia N. Azizah. Untuk saat ini saya sedang melanjutkan studi di Fakultas Kehutanan - Institut Pertanian Bogor. Dan untuk saat ini penulis sedang duduk di semester lima. Aktivitas lain selain kuliah adalah menjadi seorang desainer grafis di sebuah perusahaan kecil yaitu "D'art Painting Company". merupakan sebuah perusahaan kecil yang terkonsentrasi di bidang Sepatu Lukis (Painting Shoes) dan di bidang konveksi. Pemuda dengan tinggi badan 187 cm ini menyenangi segala sesuatu yang berhubungan dengan desain grafis, IT, dan olah raga. sebuah impian yang selalu ingin di capai untuk saat ini adalah ingin menjadi seseorang yang sangat bermanfaat bagi dunia.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kalender

Februari 2011
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28  
%d blogger menyukai ini: