//
you're reading...
Artikel Terbaru

Kandungan Kadar Air Bahan Bakar Serasah (Daun dan Ranting)

Kebakaran hutan didefinisikan sebagai suatu proses pembakaran yang menyebar secara bebas dengan mengkonsumsi bahan bakar alam hutan misalnya serasah, humus, rumput, ranting-ranting, tiang, gulma, semak, dedaunan, serta pohon-pohon segar (Ismail, 2005). Selain itu, menurut Brown Davis (1973) kebakaran hutan didefinisikan sebagai suatu proses reaksi cepat dari oksigen dengan unsur-unsur lain dan ditandai dengan adanya panas, cahaya, serta biasanya menyala. Proses kebakaran meliputi beberapa tahapan pembakaran, yaitu tahapan pra-penyalaan, penyalaan, pembakaran, pemijaran dan fase terakhir (Ismail, 2005). Pada tahapan pra-penyalaan, bahan bakar mulai terpanaskan, terhidrasi (kering) dan mulai terjadi proses pyrolisasi yaitu terjadinya pelepasan uap air, karbondioksida, dan gas-gas yang mudah terbakar termasuk methana, methanol, dan hidrogen (Ismail, 2005). Oleh karena itu, banyaknya kadar air dalam suatu bahan bakar akan mempengaruhi kesempurnaan pembakaran itu sendiri.

Kadar air bahan bakar berpengaruh terhadap perilaku kebakaran terutama dalam hal kemudahan dari bahan bakar tersebut untuk menyala, kecepatan proses pembakaran, kecepatan penjalaran api, dan kemudahan usaha pemadaman kebakaran (Ismail, 2005). Bahan bakar yang lembab (kadar air tinggi) akan membutuhkan energi panas yang lebih banyak untuk melakukan pembakaran, karena energi panas tersebut digunakan untuk menguapkan uap air yang terkandung dalam bahan bakar tersebut (Aryanti, 2002). Bahan bakar sulit untuk terbakar oleh api apabila kadar air yang terkandung oleh bahan bakar melebihi 12 %. Faktor cuaca seperti curah hujan, kelembaban, dan suhu merupakan faktor iklim yang dapat mempengaruhinya (Ismail, 2005).

Angin juga dapat mempengaruhi kekeringan suatu bahan bakar, sehingga dengan adanya angin bahan bakar yang awalnya sulit terbakar menjadi mudah untuk terbakar, namun pengaruh sesungguhnya adalah perubahan suhu bahan bakar dan perubahan kelembaban relatif dari udara sekeliling bahan bakar dalam suatu proses kebakaran hutan. Intensitas bahan bakar akan menurun pada waktu sore atau malam hari karena turunnya suhu dan meningkatnya kelembaban udara (Ismail, 2005).

Kadar air bahan bakar mempunyai hubungan-hubungan yang kompleks dan berubah dari waktu ke waktu (Asril, 2002). Pada bahan bakar hidup, kadar air tajuk dan ranting-ranting kecil diatur oleh proses fisiologis (Asril, 2002). Dalam hal ini, besarnya perubahan kadar air sangat terkait erat dengan perubahan suhu harian dibanding fluktuasi kelembaban udara maupun kadar air tanah (Asril, 2002). Selama kekeringan yang berkepanjangan, kadar air tajuk dapat berkurang sangat banyak (Asril, 2002). Pada bahan bakar mati, kehilangan air berlangsung melalui tiga mekanisme dengan melibatkan proses fisika yang sangat berbeda (Asril, 2002).

Bahan bakar mati bersifat dapat menyerap air dari atmosfer sekitarnya (higroskopis) atau sebaliknya melepaskan kelengasan sampai terjadi kesetimbangan (Asril, 2002). Kadar air pada kondisi kesetimbangan ini disebut kadar air setimbang(equilibrium moisture content, EMC) (Asril, 2002). Besaran ini detentukan oleh suhu dan kelembaban relatif udara, serta oleh sifat-difat internal bahan bakar (Asril, 2002).

Panas yang diserap oleh bahan bakar yang lembab mengurangi jumlah panas yang tersedia dari pembakaran dan mempercepat proses padamnya api (Ismail, 2005). Kadar air dalam bahan bakar diketahui sebagai faktor penting yang membatasi pembakaran membara (smoldering combustion) (Asril, 2002). Panas penguapannya yang tinggi (2,26 MJ/Kg) menjadi penyerap panas yang efektif untuk menghambat pembakaran (Asril, 2002). Komposisi bahan bakar juga mempengaruhi intensitas kebakaran. Minyak dan resin dapat meningkatkan reaksi panas dan intensitas kebakaran sedangkan konsentrasi mineral dapat menurunkan flammabilitas (Aryanti, 2002).

Kadar air adalah jumlah kandungan air yang ada dalam bahan bakar yang dinyatakaan dalam persentase berat air terhadap berat kotor bahan bakar yang dikeringkan pada suhu 1000C. Lebih sedikit kandungan air bahan bakar maka lebih mudah baha bakar terbakar (Clar dan Chatten, 1954). Tumbuhan hidup mengandung 70-80% air. Setelah mati, kandungan airnya akan dipengaruhi temperatur, kelembaban dan angin. Yang sangat besar mempengaruhi kadar air bahan bakar adalah hujan. Kadar air bahan bakar dibedakan sebagai berikut : sangat kering (<20%), kering (10-20%), agak kering (20-30%), basah (30-50%), dan sangat basah (>50%). Kandungan air atau tingkat kebasahan menentukan mudah tidaknya terjadi ignasi atau penyalaan bahan bakar hutan (Balai Teknologi Reboisasi Banjar Baru, 1992)

Kadar air maksimum yang masih memungkinkan bahan bakar terbakar menyala disebut kadar air pembatas (moisture of extinction) (Asril, 2002). Kadar air pembatas ini bergantung pada kimiawi bahan bakar dan kondisi bagaimana ia terpanaskan oleh pembakaran (Asril, 2002). Kadar air pembatas untuk tipe pembakaran membara bervariasi dari 110 % sampai lebih dari 135 %, yang berarti kurang lebih sama dengan kadar air pembatas pada bahan bakar hidup (Asril, 2002).

Kandungan air bahan bakar meningkatkan jumlah panas yang diperlukan untuk menaikan suhu pada suatu titik di mana gas-gas yang mudah terbakar dihasilkan. Air tersebut akan menyerap sebagian panas yang tersedia untuk pirolisis dan melarutkan gas-gas yang dihasilkan. Oleh kerena itu, kadar air bahan bakar meningkatkan waktu penyalaan dan menurunkan laju pembakaran (Countryman 1976b dalam DeBano et al. 1998).

Kadar air bahan bakar yang menunjukan jumlah air yang dikandung oleh partikel bahan bakar merupakan factor yang sangat berpengaruh terhadap perilaku api, terutama dalam kecepatan pembakaran dan kemampuan terbakar dari bahan bakar. Dalam hal ini, semakin tinggi kadar air bahan bakar semakin banyak panas yang diperlukan untuk mengeluarkan air dari bahan bakar. Hasilnya, terjadi penurunan kecepatan pembakaran dan flamabilitas dari bahan bakar tersebut. Oleh kerena itu, kadar air sering digfunakan dalam prediksi perilaku api (Syaufina 2008).

Kadar air bahan bakar hutan digolongkan kedalan dua tipe, yaitu kadar air bahan bakar mati (dead fuel moisture) dan kadar air bahan bakar hidup (live fuel moisture). Kadar air bahan bakar mati bervariasi, mulai dari 1-2% di padang pasir sampai dengan 300% pada kayu yang lapuk. Kadar air ini sangat memengaruhi potensi kebakaran dan semata-mata dipengaruhi oleh curah hujan, kelembaban dan suhu udara. Kadar iar bahan bakar hidup adalah kadar air yang dikandung oleh rerumputan, semak belukar, tanaman herba dan pohon (Syaufina 2008).

Penetilitian Rastioningrum (2004) menunjukan bahwa bahan bakar daun dengan kadar air sebesar 30%, 20% dan 10% dapat terbakar dengan baik lebih dari 50%. Bahkan pada kadar air 10%, bahan bakar daun dapat terbakar hamper 100%. Dengan demikian , dapat dikatakan bahwa kadar air 30% merupakan kadar air kritis untuk bahan bakar dedaunan dalam bahan bakar hutan. Untuk kadar air ranting diameter <0,5 cm, hanya pada kadar air 10% bahan bakar dapat terbakar dengan baik dengan persen terbakar 68,8%. Demikian juga untuk ranting diameter 0,5-1 cm, hanya pada kadar air 10 % dapat terbakar dengan baik dengan presentase terbakar 54,3% sehingga dapat dikatakan bahwa kadar air kritis untuk bahan bakar ranting dengan ukuran diameter tersebut adalah 10%. Sementara itu, ranting berdiameter 1-2 cm, 2-5cm, dan 5-10 cm memiliki persentae terbakar kurang dari 50% walau kadar airnya sebesar 10%.

Hutan-hutan tropis basah yang belum ditebang (belum terganggu) umumnya benar-benar tahan terhadap kebakaran dan hanya akan terbakar setelah periode kemarau yang berkepanjangan. Sebaliknya, hutan-hutan yang telah dibalak, mengalami degradasi, dan ditumbuhi semak belukar, jauh lebih rentan terhadap kebakaran (FWI-GFW, 2009)

Pohon-pohon mati dalam proses pembusukan adalah potensial untuk terbakar. Sebuah pohon mati terbakar dapat membahayakan pohon-pohon lain karena sebaran dan percikan apinya dapat menjangkau jarak yang jauh. Rumput adalah bahan bakar yang mudah berubah karena kondisi cuaca. Rumput cepat mengering dan akan menunjukkan tanda-tanda akan terbakar. Rumput kering dan mati sangat cepat tersulut dan akan terbakar dengan cepatnya, khususnya rerumputan yang tumbuh rapat. Kebakaran rumput akan membakar areal yang luas dan kita tak cukup waktu untuk memadamkannya jika tidak dikontrol sesegera mungkin. Angin dan kemiringan akan mempercepat penjalaran api. Namun demikian kebakaran rumput tidak terlalu panas, dan dalam tempo singkat sudah dingin. Bentuk kebakarannya mirip dengan kebakaran rumput, hanya biasanya lidah apinya lebih besar dan berasap lebih banyak. Semak-semak/perdu adalah bahan bakar yang mudah menyala dan tidak memakan waktu lama untuk terbakar secara luas.

Kebakaran pada hutan pinus dapat terjadi setiap saat, tidak terbatas pada musim kemarau. Hal ini disebabkan seluruh bagian pohon pinus mengandung getah yang mudah terbakar. Di samping itu serasah daun pinus cepat kering dan sulit melapuk sehingga menjadikannya bahan yang mudah terbakar. Kebakaran pada hutan pinus kemungkinan terjadi tiga jenis kebakaran yaitu : kebakaran bawah, kebakaran tajuk atau keduanya secara bersamaan.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Aryanti E. 2002. Karakteristik Kebakaran Limbah Vegetasi Hutan Rawa Gambut di Desa Pelalawan Kabupaten Pelalawan Propinsi Riau [Tesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Asril. 2002. Potensi Kebakaran Hutan Berdasarkan Indeks Kekeringan, Bahan Bakar dan Praktek Pembakaran oleh Masyarakat [Tesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Balai Teknologi Reboisasi Banjar Baru Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. 1992. Mengendalikan Api Lahan. Penerbitan Nomor 3, Januari 1992. Kalimantan Selatan.

Brown, AA. And K. P. Davis. 1973. Forest Fire Control and Use. Mc. Graw-Hill Books Company. New York. 658p

Clar, C. D. and L. R. Chatten. 1954. Principles of Forest Fire Management. Departement of Natural Resources Division of Forestry. California. 200p.

De Bano, L. F., D. G. Neary and P. F. Ffolliott. 1998. Fire’s Effects on Ecosystem. John Wiley. USA. 303 p.

Forest Watch Indonesia-Global Forest Watch [FWI-GFW]. 2009. Keadaan Hutan Indonesia [Laporan]. Bogor: Forest Watch Indonesia.

Ismail AY. 2005. Dampak Kebakaran Hutan Terhadap Potensi Kandungan Karbon pada Tanaman Acacia mangium Willd di Hutan Tanaman Industri [Tesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Rastioningrum W. 2004. Hubungan unsure-unsur iklim dengan kadar air dalam proses pengeringan bahan bakar di hutan sekunder Jasinga dan perilaku api. Skripsi Program Studi Budidaya Hutan Departemen Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan IPB. Bogor. 58 p.

Syaufina Lailan. 2008. Kebakaran Hutan dan Lahan di Indonesia. Bayumedia Publishing : Malang

 

 

 

About baskara90

Terima kasih kepada siapa saja yang telah membuka blog ini. Saya adalah Hafiizh Baskara. Seorang pria yang terlahir di Jombang pada tanggal 17 Juli 1990. Dari pasangan Suami-Istri yaitu Drs. Adi Rahardjo dan Dra. Surjani Hasana, dan kini beliau berdua memiliki tiga putra. Hafiizh Baskara, Zahdiar Radin, dan Yunia N. Azizah. Untuk saat ini saya sedang melanjutkan studi di Fakultas Kehutanan - Institut Pertanian Bogor. Dan untuk saat ini penulis sedang duduk di semester lima. Aktivitas lain selain kuliah adalah menjadi seorang desainer grafis di sebuah perusahaan kecil yaitu "D'art Painting Company". merupakan sebuah perusahaan kecil yang terkonsentrasi di bidang Sepatu Lukis (Painting Shoes) dan di bidang konveksi. Pemuda dengan tinggi badan 187 cm ini menyenangi segala sesuatu yang berhubungan dengan desain grafis, IT, dan olah raga. sebuah impian yang selalu ingin di capai untuk saat ini adalah ingin menjadi seseorang yang sangat bermanfaat bagi dunia.

Diskusi

2 thoughts on “Kandungan Kadar Air Bahan Bakar Serasah (Daun dan Ranting)

  1. THx Brader… aye IPB juga.MSL. Artikel ini aye pake buat skripsi aye ya. semoga barokah

    Posted by ALvi | September 13, 2011, 1:56 pm

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kalender

Maret 2011
S S R K J S M
« Feb   Mei »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
%d blogger menyukai ini: